Jumat, 21 September 2012

Sorry, U dont know me..

 


Ini seperti sesuatu yang dipaksakan..
Sebenarnya aku ingin dimengerti tetapi rasanya aku belum pentas untuk dimengerti
Sebenarnya aku ingin dipeluk ketika aku sedih tetapi aku sudah terlanjur terlihat kuat
Sebenarnya aku ingin dia tetap tersenyum untuk mengobati segala sakitku tapi akulah dokternya

Aku tahu jika aku bersembunyi dari keinginanku, aku menjadi seseorang yang berbeda. Aku tidak akan bisa mengungkapkannya dan aku akan memilih untuk menjauh. Karena tidak ada orang yang bisa mengerti aku. Termasuk juga dirimu..

Jumat, 07 September 2012

Pura Nyarikan

Bali adalah tanah seribu pura. Pura di Bali ada dan dibuat oleh para leluhur dan dipelihara oleh keturunannya. Salah satu jenis pura yaitu pura Nyarikan. Pura nyarikan biasanya ada pada setiap desa. Pura ini biasanya dibangun bersama oleh beberapa penduduk dalam satu desa.

Penerus dalam pemeliharaannya diwajibkan memaksan, ngayah, dan medana punia demi kelangsungan pura tersebut. Memaksan diartikan menyetor iuran pokok pada saat sebelum hari raya seperti galungan dan kuningan. Jumlah setoran bervariasi disetiap desa. Pada pura nyarikan Lembeng jumlah setoran sekitar Rp.5.000 sampai Rp.10.000.

Pura Nyarikan Lembeng pada saat ini di usung oleh 35 orang termasuk Bapak saya. Jika ada rainan(upacara) besar, para pengusung berjumlah 35 orang tersebut diwajibkan medana punia dengan pokok Rp. 500.000/pengusung. Karena upacara umat bali cukup besar, dana tersebut dinilai belum cukup. Maka biasanya sumbangan lain didatangkan dari Desa dan beberapa pengusung yang memiliki finansial yang diatas rata-rata. Sumbangan/dana punia tambahan dari pengusung bisa mencapai Rp.500.000 hingga Rp. 3.000.000 Pada saat upacara besar juga dibutuhkan tenaga dan waktu dari para pengusung untuk melaksanakan upacara sampai menyelesaikannya.

Mengapa pengusung hanya 35 orang? sedangkan penduduk desa jauh lebih dari itu? Ini adalah suatu pertanyaan yang masih belum saya temukan. Ada beberapa penjelasan seperti pura Nyarikan disini sebagai pengganti "Kawitan" bagi masyarakat yang belum mengetahui kawitannya. Keadaan yang dialami keluarga saya dulu yang tidak mengetahui asal usulnya. Keluarga kumpi(Wanita) saya sudah ngayah di Pura Nyarikan. Karena Kakek Buyut saya masih belum mengetahui asalnya(kawitan), maka keluarga saya ngayah ke Nyarikan. Mungkin seperti keluarga besar saya seiring jalannya waktu, orang-orang lain sudah mulai menemukan kawitan juga dan mulai mepamit dari pura Nyarikan.

Kenapa mepamit? waktu, tenaga, dan materi adalah jawabannya. Mengusung sebuah pura saja sebuah keluarga harus mengeluarkan waktu dan tenaga jika ada kegiatan gotong royong atau upacara berikut materi yang dikeluarkan untuk mendanai kegiatan tersebut. Apalagi jika pura yang diusung lebih dari satu. Keadaan ini dipastikan menjadi faktor utama mepamitnya para pengusung.

MELAGA

Bali adalah pulau yang penuh dengan sosialitas yang sangat kental. Adat istiadatnya yang bercampur dengan agama Hindu sudah menjadi kesatuan. Salah satu contohnya adalah kegiatan upacara di pura yang membutuhkan kegotong royongan seluruh masyarakat desa(tedun desa). Walaupun gotong royong memang penting, namun Bali dan Hindu selalu flexibel.

Beberapa masyarakat yang berkegiatan dan tinggal di luar desa yang jelas sangat sulit mengikuti kegiatan gotong royong masih tetap diakui keberadaannya dengan beberapa syarat. Dalam desa pekraman Lembeng-Ketewel-Gianyar atau desa2 lain bisa disebut MELAGA. Melaga berarti segala kegiatan desa, dibayarkan dengan sejumlah uang sebagai pengganti kewajiban hadir dalam gotong royong. Besar uang bervariasi pada setiap desa. Pada desa Lembeng besar uang untuk Melaga adalah Rp. 150.000/6 bulan sekali.

Walaupun sudah membayar, masyarat yang melaga diharapkan tetap hadir jika memang benar2 dibutuhkan sekali oleh desa dan ada juga beberapa kegiatan yang diharapkan hadir seperti melayat orang yang meninggal sebagai penghormatan terakhir.

Minggu, 02 September 2012

Menengoklah k belakang sebentar saja kawan!!!



Ada sepenggal kalimat yang bisa membuatku cengar-cengir yaitu kalimat yang bisa ditulis d wall facebook teman “menengoklah k belakang sebentar saja kawan!!!”. Kalimat ini memiliki cerita. Kalimat ini seperti menyadarkan temannya yang sudah meninggalkannya untuk kembali menghampirinya walau sebentar. 

Suatu hubungan pertemanan yang lebih daripada teman yang bisa disebut persahabatan biasa kita bayangkan seperti jalan bersama, memiliki visi yang sama, saling tolong menolong, senang sedih bersama, saling memotivasi, dan banyak kegiatan lain. Banyak definisi yang bisa menggambarkan bagaimana itu persahabatan.

Menuruku, persahabatan tidak jauh berbeda dengan cinta. Persahabatan atau cinta bukanlah suatu ikatan dimana beberapa pihak harus membubuhkan tanda tangan diatas kertas putih bertuliskan pasal-pasal persahabatan dengan matrai Rp6.000 tertempel diatasnya. Dan persahabatan juga bukanlah sebuah komitmen yang mengharuskan beberapa pihak yang terikat persahabatan harus menyelesaikan misi-misi tertentu walau masalah, kerugian waktu, kerugian materi, dan kerugian2 lain sudah menghinggapinya dan semakin rumit.

Daya tarik dan Ikatan emosional adalah sesuatu yang dapat membentuk dan memecah persahabatan. Simplenya adalah “perasaan”. Bukan semata-mata karena seorang teman itu kaya, loyal, tampan, cantik, keahlian, atau pintar persahabatan itu bisa terbentuk. Seiring jalannya waktu maka diperlukan “keseimbangan” dan “kedewasaan” untuk selalu mempertahankan “perasaan”. 

Kenapa persahabatan bisa berhenti? Sebenarnya hal ini sangat sederhana. Tidak adanya keseimbangan dan kedewasaan membuat hilangnya perasaan daya tarik dan ikatan emosional akan terpecah menjadi “emosi” yang meluncur cepat keatas langit tanpa menggunakan logika yang benar(baca: tidak dewasa). Keseimbangan yang dimaksud adalah sekali lagi bukan kaya, loyal, tampan, cantik, keahlian, atau pintar  (baca: materil, fisik, intelegen). Faktor2 tersebut hanya pelengkap persahabatan saja. Materil bisa dicari, fisik bisa dibentuk, intelegen bisa dipelajari. Hal yang dimaksud adalah “waktu” dan “tahu”. Tahu dengan keadaan teman dan memberikan waktu untuk menunjukan kepedulian. Oke kita buat lebih simple
1. Saling mengunjungi rumah 
2. Saling menghadiri acara atau pencapaian tertentu
3. Saling memberikan kejutan
4. Saling menghubungi untuk menjaga silahturahmi

Yang paling mencolok adalah kata “saling” yang berarti “keseimbangan”. Jika sudah ada ke”saling”an energi positif akan terbentuk. Sangat mungkin dengan energi positif tertentu teman dan anda sendiri bisa mencapai sesuatu hal yang positif juga. Nah pada saat itu kita “tahu” harus merayakannya bersama-sama. Walau tidak ada yang harus dirayakan, seharusnya kita tetap “dewasa” untuk selalu mengerti(tahu) pentingnya silahturahmi.